Jakarta Dua Pagi

Tidak ada tempat untuk berbual tanpa alasan. Tapi ketidaksinkronan antara otak dan fisik memaksa dan mendera untuk tetap beraksi, hidup di kala manusia pada umumnya terlelap.

Iya. Hidup itu banal. Lebih banal lagi di ibukota. Segala sesuatu terukur, tetapi fana. Impian bertumpuk hingga berbusa ruah, tetapi sedikit sekali yang bisa keluar dari kerumunan buih. Banyak yang pudar, berpendar semu, dan menghilang begitu saja. Mestinya saya tak perlu menyalahkan ibukota. Memang manusia begini adanya.

Mungkin sisi terangnya adalah, ketika ide dan gagasan sahut menyahut hingga menumbuhkan cabang – cabang, saya bisa menuliskannya dengan penuh kepuasan diri. Puas di antara belantara material, pikiran saya masih berlimpah ruah. Andai pikiran ini berbuah mata uang dengan sekejap mata… Dan tanpa aksi, pengandaian itu tak lebih dari awan yang terlihat indah namun tak terjangkau.

Tak baik hanya berharap dan berbual tanpa aksi. Mari! bertindak!

1497731_3854258250185_49134699_n(*)Foto diambil di Amerika Serikat pada bulan Agustus 2013 menggunakan kamera LC-A+

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s