Ikut-ikutan (Jangan buru-buru memilih, masih ada golput)

Ada kabar gembira buat kita semua!

Kalimat di atas pasti sudah pada tahu sambungannya. Lihat iklan selengkapnya di sini.

Begitu cepatnya viral ekstrak kulit manggis itu menyebar, menciptakan berbagai meme. Sementara viral itu menyebar, orang masih banyak yang belum paham di mana letak lucunya. Begitulah viral. Dan semua orang ikut-ikutan menyebarkannya.

Bicara soal ikut-ikutan, pasca pemilu bulan April 2014 silam, hampir seluruh netizen nampak bergairah menyambut pilpres. Dengan dua pasang kontestan yang bertarung, pemilihan akan seru. Mulai dari media yang condong ke masing-masing kontestan, kampanye negatif, kampanye hitam, hingga yang terbaru, media yang menyatakan diri mendukung salah satu capres.

Begitu jenuhnya media baik kantor berita, media abal-abal, hingga media sosial membicarakan pilpres hingga banyak netizen yang muak dan eneg mendengar seputar pilpres. Bahkan ada yang sampai unfriend atau unfollow akun teman hingga kerabat hanya karena bicara tentang pilpres. Buat saya ini amajing. Pemandangan ini tidak saya temukan pada pilpres-pilpres sebelumnya. Kompetisi kali ini dipenuhi oleh sorak sorai para pendukung, mulai dari cara-cara damai hingga bentrokan antar kubu pendukung kontestan/ partai. Inilah wajah era digital di mana aksi militansi tak hanya di ranah jalanan tapi juga teriakan membahana di sudut-sudut media sosial. Berita dan kisah tak hanya monopoli industri media massa (walau mereka pun berperan mengamplifikasi teriakan para pendukung).

Masing-masing kubu sudah punya pendukung fanatik dan militan. Bahkan berlomba-lomba mencari testimoni dari tokoh masyarakat, atau sebaliknya, tokoh masyarakat memberi testimoni sukarela kepada kontestan. Saya lihat teman-teman saya secara aktif (beberapa cenderung hiperaktif) untuk menjadi evangelis masing-masing kontestan. Saya tidak.

Teman saya ,yang kebetulan pernah menjadi petugas TPS, mengatakan, akan lebih seru nan gayeng apabila pilihan masing-masing orang itu tetap rahasia hingga akhirnya diketahui pasca pemilihan. Menurutnya, pemilihan umum idealnya LUBER. Langsung umum bebas rahasia.

Tapi Luber itu adalah produk Orde Baru. Luber ditanamkan di benak anak-anak sekolah pada jaman Pak Harto. Itu sudah usang. Sama usangnya dengan kampanye program 4 sehat 5 sempurna. Dengan adanya berbagai cara kecurangan yang mungkin terjadi, orang beramai-ramai menyatakan dukungan dan memilih pada sisi mana dia berada sebelum pemilihan untuk memonitor kecurangan.

Saya memilih golput sampai saatnya saya nyoblos. I don’t take side. I don’t support nor against any side. Biarkan saya sendiri (plus Tuhan) yang tahu saya nyoblos apa ataupun saya nggak nyoblos manapun ataupun saya nyoblos dua duanya. Buat saya golput itu bukan anti pembangunan, tapi golput adalah salah satu cara kritis dan skeptikal melihat persoalan secara obyektif dan logis. Iya, saya skeptikal.

Berarti tiap kali pemilu saya golput? Mungkin ya mungkin nggak. Saya nggak merasa perlu ngasih tahu tentang hak saya yang satu itu. Tapi satu yang pasti, siapapun yang mimpin, saya nggak segan-segan mengkritik bila salah dan mendukung bila kebijakannya memberi manfaat bagi orang banyak.

Adalah picik ketika golput lalu dianggap sebagai masa bodoh dengan pembangunan. Sama piciknya dengan paradigma golput nggak boleh menyatakan pendapatnya terhadap pemerintahan yang berjalan. Nyoblos tidak bisa dianggap sebagai mendukung mutlak pilihannya. Nyoblos adalah menyalurkan hak. Sama dengan tidak nyoblos pun juga menyalurkan hak. Sah saja bila orang teriak dukung nomor satu lalu nyoblos nomor dua, atau sebaliknya. Kecuali ybs adalah anggota partai dan terikat komitmen untuk selalu mendukung partainya apapun yang terjadi. Golput buat saya semata-mata hak, bukan apatisme terhadap politik.

Romo Magniz bilang pemilu itu bukan milih yang terbaik, tapi menghentikan yang jahat berkuasa. Di era serba abu-abu ini yang jahat bisa terlihat baik, dan yang baik pun bisa menyelipkan agenda jahatnya (atau agenda pihak lain yang ikut diselipkan) dengan rapi. Siapa yang benar-benar tahu? Media? Temanmu? Ucapan yang bersangkutan? Pernyataan resminya? Apakah kamu yakin? Apakah kamu percaya? Saya tidak.

Saya bercermin pada pemilu yang memenangkan Pak Beye sepuluh tahun yang lalu. Pak Beye bukan kontestan yang terbaik, tapi toh kabinetnya nggak bersih dari korupsi, ketidak tegasan terhadap tindak kekerasan berlatarbelakang agama, dan sebagainya. Kita berharap ada terobosan bagi masalah sosial kemasyarakatan, tapi yang terjadi adalah ungkapan “Saya prihatin”. Plus yang terahir, beliau dengan Christiano Ronaldo yang adalah duta mangrove dunia menandatangani dukungan terhadap konservasi mangrove khususnya di Bali, kini dengan mudahnya meratifikasi reklamasi di lokasi yang sama. Amajing…

Adakah kalian yang memilih Pak Beye (atau kita pada umumnya) mampu menghentikan kebijakan beliau?

Bagi kalian yang sudah madhep mantep dengan kontestan pilihan, silakan dukung. Mau gontok-gontokan silakan. Mau adu urat saraf sampai sarap silakan. Toh tak ada pengaruhnya terhadap kontestan yang bersangkutan.

Saya memilih untuk lebih banyak mendengar dan juga mengamati. Saya meyakinkan diri saya sendiri dalam benak saya sendiri. Saya memilih (atau tidak memilih) adalah hak, namun saya tetap menunaikan kewajiban saya terlibat dalam pembangunan dan kemasyarakatan. Lebih baik buat saya untuk diam dalam riuh kampanye namun ramai dalam aksi sosial bagi masyarakat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s