Menolak Tua

Source: http://cnet4.cbsistatic.com/hub/i/2013/11/05/aedac774-6dea-11e3-913e-14feb5ca9861/95d6b954e874d5c55e0c2bd2054a4649/VITA_02_1_610x458.jpg
Source: http://cnet4.cbsistatic.com/

Ada istilah Gaptek. Istilah ini diperuntukkan bagi orang yang tidak terlalu peduli dengan arus zaman dan akhirnya ketika berhadapan, menjadi gagap dan menyalahkan ini dan itu karena nggak mengerti bagaimana cara menghadapinya. Biasanya kita gaptek saat sudah nyaman pada satu sistem. Istilahnya sudah pewe alias posisi wenak.

Di zaman di mana teknologi menjadi bagian yang nggak terpisahkan dalam hidup manusia, gaptek adalah momok seiring bertambahnya usia. Semakin tua semakin gaptek dan sulit untuk mengerti teknologi yang mutakhir. Gaptek adalah hal yang ingin sekali saya hindari. Kalau bisa nggak gaptek, setidaknya tahu walaupun tidak menggunakan sehari-hari. Seperti misalnya operating system dari HP. Kita mengenal Android, iOS, Windows, BlackBerry, dan yang minor seperti Mozilla. Dengan memahami cara kerja operating system, kita memudahkan hidup kita sendiri. Meminimalisir keluhan yang kita nggak ngerti solusinya. Kadang kita ambil jalan pintas, suruh orang kerjakan apa masalah yang kita hadapi. Itu adalah solusi, tapi tidak menyelesaikan masalah kita, karena kitalah masalahnya.

Itu ilustrasi bagaimana gaptek bisa mematikan potensi dan semangat orang. Yang saya lakukan untuk meminimalisir gaptek adalah tidak sungkan untuk bergaul dengan generasi yang lebih muda. Anak remaja misalnya, mereka paling cepat menyerap teknologi dan seringkali paling mahir. Dari merekalah kita bisa menyerap ilmu dan pengalaman.

Baru-baru ini saya membeli sebuah game console yaitu PSVita. Terakhir kali punya konsol adalah waktu saya duduk di sekolah dasar. Setelahnya saya bermain di PC. Saya memang bercita-cita ingin punya konsol seperti PS3 atau PS4, namun menurut saya menguras banyak dana, karena saya harus menyiapkan televisi, dan lain lain. Akhirnya tanpa ragu saya beli PSVita.

Konsol ini mengajarkan hal baru pada saya. Bagaimana saya harus belajar menghargai hak cipta (umumnya game PSVita original, harus beli game card atau online), bagaimana saya harus memahami sistem Sony hingga memahami cara kerja game itu sendiri, mengingat saya sudah lama sekali tidak bermain game.

Di satu sisi, saya inginnya cepat mengerti, minta diajarkan orang dan langsung tahu. Namun saya sadar itu tidak efisien, seperti faktor waktu yang harus diluangkan untuk ketemu dan menurut saya itu merepotkan orang lain. Saya pun harus belajar dari pengalaman serta tanya melalui WhatsApp atau BBM.

Di sisi lain, perlahan saya menikmati proses pembelajaran ini sebagai sesuatu yang mendewasakan. Lho, bagaimana mungkin game mendewasakan? Karena memahami PSVita memang memerlukan pengertian, tidak asal bermain. Pun beberapa game yang dirilis ditujukan oleh pemain remaja ke atas hingga dewasa. Artinya diperlukan pengetahuan dan pemahaman.

Saya nggak tahu akan bertahan berapa lama PSVita saya ini, karena begitu banyak hal yang harus dikerjakan setiap hari. Pekerjaan, relasi dengan sahabat, membangun masa depan, hingga terpikir untuk studi lagi. Rasanya nggak ada waktu untuk bermain. Tapi saya nggak mau imajinasi saya tumpul. Saya yakin game, komik, dan berbagai literatur itu menajamkan imajinasi sehingga mengurangi stres dalam pekerjaan.

Salah satu alasan utama mengapa saya memilih game konsol (atau handheld, atau apapun sebutannya), ketimbang game yang ada di iOS atau android adalah sistem monetisasi gamenya. Pada game konsol, kita membeli game nya di muka dan bisa menikmatinya hingga tamat. Taruhlah kita bayar Rp 100 ribu untuk sebuah game PSVita. Kita bisa menikmati game itu sampai tamat tanpa perlu bayar lagi (kecuali tambahan minor seperti skin, map, dll tapi tidak mengganggu inti cerita game). Sementara game iOS dan Android kebanyakan seperti ini: kita digratiskan di awal, namun untuk bisa menyelesaikan stage atau misi mau tak mau kita harus beli sesuatu. Dan ini harus dilakukan berulang kali. Ini menjadi skema umum dari mobile apps. Ada yang menyebutnya in-apps purchase dan semacamnya. Game monetization bisa memaksa seorang player menghabiskan dana hingga puluhan juta untuk menamatkan sebuah game dengan mulus. Kalaupun tidak bayar, kita akan berhadapan dengan kebosanan menunggu (memakan waktu jauh lebih lama).

Sebenarnya PS Store melakukan game monetization juga, namun dalam kadar yang lebih ringan. Kebanyakan game bisa dinikmati sekali bayar. Ini adalah hal yang sedang saya pelajari, mungkin yang saya sampaikan ada yang kurang tepat, mohon bisa dikritik agar saya semakin paham.

Bermain game PSVita adalah salah satu cara saya untuk menolak tua, Bagaimana dengan kamu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s