Kost

Mereka yang pernah merantau pasti tahu bagaimana tinggal di tempat yang bernama Kost.

Bila berbicara tinggal di ibukota, banyak pilihan untuk menyewa tempat tinggal selain kost. Ada apartemen, rumah susun, kontrakan, sewa rumah, dan lain-lain. Dari sekian pengalaman tinggal, saya masih menyenangi kost.

Saya pernah punya kost di Solo waktu saya masih remaja. Saya pun pernah tinggal di kamar kost walaupun dihitung sebagai kamar sendiri, jadi bukan ngekost. Saya mengamati dinamika yang terjadi di kost: ada yang bermain gitar malam-malam, pillow talk (yang kost cewe), PS an, hingga nobar bola di kamar kost yang ada TV nya, karena tak semua penghuni kost punya TV. Dinamika itu menjadi romansa tersendiri yang membuat ngekost berkesan.

Saya pertama kali merasakan kost ketika saya merantau ke Jakarta tiga tahun yang lalu, setelah sebelumnya saya tinggal di kontrakan bersama sahabat saya. Sebuah musibah yang menimpa memaksa saya untuk memilih kost.

Pada umumnya orang memilih kost karena faktor harga (murah), fasilitas (AC, wifi, TV kabel, dll), dan praktis (bayar bulanan sudah all in). Di samping itu, ada yang memilih kost karena adanya induk semang dan teman di kost. Bila terjadi musibah (sakit misalnya), ada orang yang bisa dimintai tolong.

Saya beruntung mengalami dinamika Kost di kost saya sekarang. Walaupun kost saya sederhana, tanpa AC (karena saya kurang suka AC), tanpa TV Kabel (saya bukan penyuka TV juga), tanpa wifi (karena mampu beli modem wifi), saya masih bisa merasakan keakraban antar penghuni kost. Tidak sekedar sapa ketika bertemu, tetapi nongkrong bareng, bahkan ketika ada yang menikah turut hadir di resepsi pernikahan. Ketika larut malam, terkadang mendengar sayup-sayup tetangga kos bermain gitar sambil bernyanyi. Untung suaranya tidak fals.

Mungkin saya bisa dibilang jadul, karena dinamika kost saat ini, khususnya di ibukota, dengan penghuni kost yang heterogen, relasi sosial menjadi renggang, tak kenal pun tak akrab satu sama lain. Itulah yang terjadi ketika kost dianggap sebagai papan belaka.

Sejatinya kost merupakan rumah. Rumah bagi jiwa-jiwa yang mampir mencari nafkah atau mengemban ilmu. Tak ada yang mau ngekost seumur hidupnya, tetapi setiap jiwa pasti mencari kenyamanan dan ketenangan hidup. Prinsip itulah yang saya bawa saat saya ngekost. Puji Tuhan saya masih kenal teman-teman yang sudah “lulus” dari kost dan masih kenal penghuni kost yang tinggal cukup lama.

Ketika kost sudah dianggap rumah, maka setiap penghuninya pasti akan menjaga agar rumah tetap nyaman dihuni. Salah satu cara yang mudah adalah toleransi dan tidak mementingkan egonya sendiri. Salah satu indikasi kost menjadi tak nyaman huni adalah ketika penghuninya masa bodoh dengan lingkungan kost, baik kebersihan dan keamanan. Juga mementingkan ego dengan menggelar pesta dan gaduh apalagi sampai terlibat menggunakan narkoba hingga perselisihan rumah tangga dan tindak kriminal. Amit-amit.

Umumya pemilik kost yang semula toleran dan bisa di nego menjadi lebih ketat. Yang semula nyaman, enak, menjadi serba kaku dan ketat. Gara-gara ego segelintir orang, semua kena getahnya.

Memilih tinggal di kost yang tak ada induk semangnya bukan berarti lebih nyaman karena bebas. Justru karena tak ada induk semang, kebersihan, keamanan dan ketertiban tidak ada yang menjaga. Ujung-ujungnya yang dirugikan penghuni kost.

Pesan saya bagi yang akan ngekost, anggaplah kost sebagai bagian dari rumah sendiri namun kita harus berbagi dengan orang lain. Kita harus membuat kost itu menghadirkan kenyamanan, keamanan, syukur-syukur mendatangkan keakraban. Dengan begitu, kita akan betah dengan kost.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s