Bagaimana Game Zombie Membuat Saya Melawan Rasa Takut

Matanya mengandung LED
Matanya mengandung LED

Ada dua jenis orang terhadap zombie: takut atau tergila-gila.

Kategori orang yang pertama takut atas segala imaji yang berhubungan dengan zombie. Seandainya mereka menjadi survivor pada saat zombie outbreak, mereka yang pertama kali lari dan (mungkin) mati karena ketakutannya. Kalau pacar mereka jadi zombie romantis, ga pake lama langsung dicerai.

Kategori orang yang kedua tergila-gila terhadap zombie. Seandainya mereka sebagai survivor, mereka akan memposisikan diri sebagai tokoh utama survivor, menggunakan segala cara untuk membantai zombie. Kalau sahabat terbaik mereka jadi zombie, tanpa pikir panjang langsung shoot in the head!

Ada kategori ketiga sebenarnya, orang yang mencintai zombie. Untuk yang satu ini abaikan sajalah, namanya orang jatuh cinta, tahi kucing pun rasa coklat.

Saya masuk kategori kedua, walaupun bila terjadi zombie outbreak, saya belum tentu bisa jadi the last survivor. Bicara mengenai zombie, saya sedang suka bermain Dead Trigger di iOS. Sebuah game yang cukup lama sebenarnya, namun saya kerap memainkannya untuk memaksa saya bangun ketika ngantuk atau bangun tidur agar tidak mengantuk lagi.

Game ini tidak lebih istimewa dari Resident Evil, hanya lebih sederhana tapi tetap fancy sehingga asik dimainkan dalam beberapa menit untuk satu misi. Penggambaran zombie nya pun bervariasi, dari yang lambat, cepat, sulit dibunuh, hingga yang datang keroyokan.

Adrenalin yang muncul setiap kali saya bermain, membuat saya lama kelamaan mendapat sisi optimisme. Bahwa rasa takut hanya bisa dikalahkan dengan menghadapinya, bukan lari dari rasa takut. Bahwa kematian bukan sesuatu yang menakutkan, bila kita sudah melihatnya berulang kali. Bukan berarti saya ingin mati cepat, tetapi kematian itu sama seperti kehidupan: kita tak tahu kapan kita mati ataupun kapan persisnya kita hidup ke dunia.

Ketika saya takut terhadap ketinggian, gairah saya untuk bermain wahana seperti bungee jumping, tornado (di Dufan) semakin meningkat. Semakin tinggi adrenalin, saya semakin bersemangat untuk bisa menyelesaikan misi atau tantangannya. Efek semangat ini menular ke dalam kehidupan pekerjaan, yang membuat saya terus bersemangat untuk menghadapi tantangan yang ada di depan, tidak takut dengan hambatan dan kesulitan yang mungkin terjadi. Istilahnya, dimaki bos atau didamprat klien nggak akan bikin dunia kiamat.

Kedengaran klise, tapi buat saya itu bekerja dengan baik dan sepertinya saya akan terus memanfaatkan game yang memunculkan rasa takut seperti Dead Trigger untuk men-trigger semangat untuk terus berkarya.

Advertisements

Kasta

Dalam pekerjaan profesional, jabatan yang tinggi tentu memberi imbalan yang tinggi pula. Namun rupanya sentimen terhadap latar belakang pendidikan memengaruhi imbalan yang akan diterima seorang pegawai.

Kita bisa lihat pengkastaan ini dalam dinamika di kota-kota besar, terlebih lagi di ibukota. Berdasarkan pengamatan saya, berikut kasta yang terbentuk mulai dari yang tertinggi:

Kasta #1 : Ekspatriat

Tanpa bermaksud merendahkan, bule-bule itu digaji hingga 1000% lebih besar ketimbang tenaga kerja profesional dalam negeri dengan tugas dan kewenangan yang hampir sama. Umumnya mereka dipekerjakan di organisasi internasional. Di kalangan ekspatriat tentu ada yang cerdas brilian ada yang tidak. Ekspat yang paling kurang pintar pun gajinya pasti lebih tinggi dibanding profesional lokal yang cerdas.

Kasta #2: Lokal Lulusan Luar Negeri

Ada paradigma yang menyebutkan pendidikan luar negeri itu lebih baik ketimbang dalam negeri. Itu benar. Tapi apakah lulusan pendidikan luar negeri itu lebih baik ketimbang lulusan dalam negeri? Itu soal lain. Masih banyak perusahaan yang mementingkan lulusan luar negeri meski minim pengalaman dan reputasi ketimbang lulusan dalam negeri.

Kasta #3: Lokal Lulusan Sekolah Negeri

Cara berpikir masyarakat pada umumnya masih bergaya feodal, terbukti dengan berbondong-bondongnya masuk ke sekolah negeri, tanpa memandang minat studi. Yang penting masuk sekolah negeri. Umumnya alumni sekolah negeri mendapat kesempatan yang lebih luas (lebih diutamakan) dalam rekrutmen, dan peluang untuk mendapatkan posisi yang tinggi lebih besar.

Kasta #4: Lokal Lulusan Sekolah Swasta

Sehebat apapun sekolahnya, swasta selalu di bawah bayang-bayang negeri. Meski telah menelurkan juara olimpiade, menghasilkan hacker terhebat, desainer terkemuka, hingga bankir jempolan, swasta tetap dinomorduakan dibanding negeri. Agar para alumni bisa bersaing dengan negeri, jaringan sesama alumni kerap kali menyelamatkan. Bila ada alumni yang sukses menjadi top manajemen di sebuah perusahaan, maka dia akan merekomendasikan alumni sekolahnya untuk mengisi jabatan di perusahaan tersebut.

Kasta #5: Otodidak

Ini adalah kasta yang bisa dianggap kuda hitam. Bila mereka tidak berusaha keras menjadi yang utama di bidangnya, semua orang menganggapnya angin lalu. Dianggap tak berpendidikan, atau nir sarjana. Mereka dipandang sebelah mata, tetapi karena semangatnya, ketekunannya, serta keahliannya kemudian menjadi orang berpengaruh di bidangnya, hingga tak sedikit orang yang berguru pada mereka.

Pengkastaan ini bukan bermaksud untuk mengkotak-kotakkan individu, tetapi agar kita sadar, dunia pekerjaan itu bukan dunia yang sepenuhnya obyektif. Banyak sekali preferensi subyektif yang masuk dalam proses rekrutmen dan penggajian. Jangan sedih ketika kita tidak diterima dalam perusahaan yang kita dambakan, tetapi berusahalah dan berikan yang terbaik sehingga reputasi dan prestasi mengalahkan hirarki kasta.

Kost

Mereka yang pernah merantau pasti tahu bagaimana tinggal di tempat yang bernama Kost.

Bila berbicara tinggal di ibukota, banyak pilihan untuk menyewa tempat tinggal selain kost. Ada apartemen, rumah susun, kontrakan, sewa rumah, dan lain-lain. Dari sekian pengalaman tinggal, saya masih menyenangi kost.

Saya pernah punya kost di Solo waktu saya masih remaja. Saya pun pernah tinggal di kamar kost walaupun dihitung sebagai kamar sendiri, jadi bukan ngekost. Saya mengamati dinamika yang terjadi di kost: ada yang bermain gitar malam-malam, pillow talk (yang kost cewe), PS an, hingga nobar bola di kamar kost yang ada TV nya, karena tak semua penghuni kost punya TV. Dinamika itu menjadi romansa tersendiri yang membuat ngekost berkesan.

Saya pertama kali merasakan kost ketika saya merantau ke Jakarta tiga tahun yang lalu, setelah sebelumnya saya tinggal di kontrakan bersama sahabat saya. Sebuah musibah yang menimpa memaksa saya untuk memilih kost.

Pada umumnya orang memilih kost karena faktor harga (murah), fasilitas (AC, wifi, TV kabel, dll), dan praktis (bayar bulanan sudah all in). Di samping itu, ada yang memilih kost karena adanya induk semang dan teman di kost. Bila terjadi musibah (sakit misalnya), ada orang yang bisa dimintai tolong.

Saya beruntung mengalami dinamika Kost di kost saya sekarang. Walaupun kost saya sederhana, tanpa AC (karena saya kurang suka AC), tanpa TV Kabel (saya bukan penyuka TV juga), tanpa wifi (karena mampu beli modem wifi), saya masih bisa merasakan keakraban antar penghuni kost. Tidak sekedar sapa ketika bertemu, tetapi nongkrong bareng, bahkan ketika ada yang menikah turut hadir di resepsi pernikahan. Ketika larut malam, terkadang mendengar sayup-sayup tetangga kos bermain gitar sambil bernyanyi. Untung suaranya tidak fals.

Mungkin saya bisa dibilang jadul, karena dinamika kost saat ini, khususnya di ibukota, dengan penghuni kost yang heterogen, relasi sosial menjadi renggang, tak kenal pun tak akrab satu sama lain. Itulah yang terjadi ketika kost dianggap sebagai papan belaka.

Sejatinya kost merupakan rumah. Rumah bagi jiwa-jiwa yang mampir mencari nafkah atau mengemban ilmu. Tak ada yang mau ngekost seumur hidupnya, tetapi setiap jiwa pasti mencari kenyamanan dan ketenangan hidup. Prinsip itulah yang saya bawa saat saya ngekost. Puji Tuhan saya masih kenal teman-teman yang sudah “lulus” dari kost dan masih kenal penghuni kost yang tinggal cukup lama.

Ketika kost sudah dianggap rumah, maka setiap penghuninya pasti akan menjaga agar rumah tetap nyaman dihuni. Salah satu cara yang mudah adalah toleransi dan tidak mementingkan egonya sendiri. Salah satu indikasi kost menjadi tak nyaman huni adalah ketika penghuninya masa bodoh dengan lingkungan kost, baik kebersihan dan keamanan. Juga mementingkan ego dengan menggelar pesta dan gaduh apalagi sampai terlibat menggunakan narkoba hingga perselisihan rumah tangga dan tindak kriminal. Amit-amit.

Umumya pemilik kost yang semula toleran dan bisa di nego menjadi lebih ketat. Yang semula nyaman, enak, menjadi serba kaku dan ketat. Gara-gara ego segelintir orang, semua kena getahnya.

Memilih tinggal di kost yang tak ada induk semangnya bukan berarti lebih nyaman karena bebas. Justru karena tak ada induk semang, kebersihan, keamanan dan ketertiban tidak ada yang menjaga. Ujung-ujungnya yang dirugikan penghuni kost.

Pesan saya bagi yang akan ngekost, anggaplah kost sebagai bagian dari rumah sendiri namun kita harus berbagi dengan orang lain. Kita harus membuat kost itu menghadirkan kenyamanan, keamanan, syukur-syukur mendatangkan keakraban. Dengan begitu, kita akan betah dengan kost.

now!vember

nowvember-648x372

Semua hal bisa berubah, termasuk kebiasaan. Saya yakin prinsip 21 hari: barangsiapa membiasakan melakukan hal yang sama secara rutin dan terus menerus selama 21 hari, maka itu akan menjadi kebiasaan selamanya.

Begitu banyak hal negatif yang memengaruhi pikiran dan akhirnya menurunkan produktivitas, baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari. Akibatnya saya cenderung menyalahkan hal lain, atau melempar tanggung jawab yang semestinya saya pegang. Saya berpikir dunia tidak adil, kantor tidak adil, waktu tidak adil. Padahal semua kembali ke saya sendiri.

now!vember adalah proyek untuk diri saya sendiri untuk mengubah cara berpikir tersebut. Saya memaksa diri saya melakukan hal yang bisa segera untuk dilakukan. Do it now, talk later. Kurang lebih begitu prinsipnya. Hal ini saya berlakukan untuk semua aspek kehidupan saya: pekerjaan, pribadi, relasi, dan sebagainya.

Now!vember menjadi refleksi bagaimana saya memotivasi diri sendiri, sekaligus bereksperimen dengan manajemen waktu.

Hal yang mengejutkan, ternyata gagasan saya digaungkan oleh The Unlearn, padahal awalnya hanya berbagi lewat group di Facebook. Tentu saja hal ini membuat tanggung jawab moral yang lebih besar bagi diri saya. Setidaknya, saya harus menyampaikan perkembangan dan kemajuan serta bagaimana hasilnya.

Di akhir periode now!vember saya mengevaluasi apa yang telah saya rasakan setelah lewat hari ke 21. Tekad saya untuk melakukan dan menyelesaikan berbagai hal masih dikalahkan oleh faktor naluri alamiah (mengantuk, sakit, lelah, dsb). Namun perasaan bersalah kalau saya tidak menyelesaikan hal itu lebih mendera, sehingga pada akhirnya saya kerjakan juga hingga tuntas. Beberapa hari terakhir saya merasakan kebiasaan saya mulai berubah dari yang malas menjadi lebih rajin, setidaknya tidak menunda-nunda.

Tidak hanya kemajuan yang baik yang saya rasakan. Dampak negatifnya pun ada. Karena saya tidak memilah-milah hal, maka manajemen waktu saya berantakan dan belum rapi. Setiap hari saya harus lembur untuk menuntaskan pekerjaan agar tak ada yang tertunda. Semua email dibalas dan setiap surat dibaca agar tak terlewat isi pesannya. Namun khususnya email, saya pun mendapat efek positif yaitu komunikasi lebih lancar tanpa berasumsi. Dulu saya berasumsi penerima email mengerti apa yang saya maksud dan melakukan yang semestinya dilakukan sehingga tak perlu dimonitor. Kini saya terbiasa mengecek lagi bila ada yang belum membalas email saya, siapa tahu email terselip dan belum terbaca.

Sebagai penutup, proyek now!vember ini murni eksperimen pribadi saya, dengan harapan saya bisa berubah dari yang pemalas menjadi lebih rajin. Bila proyek ini dapat menginspirasi orang lain, itu adalah kehormatan bagi saya. Selanjutnya, saya akan mencoba bereksperimen dengan topik “work smart, not work hard”. Semoga bisa direalisasi dalam waktu dekat.

Menolak Tua

Source: http://cnet4.cbsistatic.com/hub/i/2013/11/05/aedac774-6dea-11e3-913e-14feb5ca9861/95d6b954e874d5c55e0c2bd2054a4649/VITA_02_1_610x458.jpg
Source: http://cnet4.cbsistatic.com/

Ada istilah Gaptek. Istilah ini diperuntukkan bagi orang yang tidak terlalu peduli dengan arus zaman dan akhirnya ketika berhadapan, menjadi gagap dan menyalahkan ini dan itu karena nggak mengerti bagaimana cara menghadapinya. Biasanya kita gaptek saat sudah nyaman pada satu sistem. Istilahnya sudah pewe alias posisi wenak.

Di zaman di mana teknologi menjadi bagian yang nggak terpisahkan dalam hidup manusia, gaptek adalah momok seiring bertambahnya usia. Semakin tua semakin gaptek dan sulit untuk mengerti teknologi yang mutakhir. Gaptek adalah hal yang ingin sekali saya hindari. Kalau bisa nggak gaptek, setidaknya tahu walaupun tidak menggunakan sehari-hari. Seperti misalnya operating system dari HP. Kita mengenal Android, iOS, Windows, BlackBerry, dan yang minor seperti Mozilla. Dengan memahami cara kerja operating system, kita memudahkan hidup kita sendiri. Meminimalisir keluhan yang kita nggak ngerti solusinya. Kadang kita ambil jalan pintas, suruh orang kerjakan apa masalah yang kita hadapi. Itu adalah solusi, tapi tidak menyelesaikan masalah kita, karena kitalah masalahnya.

Itu ilustrasi bagaimana gaptek bisa mematikan potensi dan semangat orang. Yang saya lakukan untuk meminimalisir gaptek adalah tidak sungkan untuk bergaul dengan generasi yang lebih muda. Anak remaja misalnya, mereka paling cepat menyerap teknologi dan seringkali paling mahir. Dari merekalah kita bisa menyerap ilmu dan pengalaman.

Baru-baru ini saya membeli sebuah game console yaitu PSVita. Terakhir kali punya konsol adalah waktu saya duduk di sekolah dasar. Setelahnya saya bermain di PC. Saya memang bercita-cita ingin punya konsol seperti PS3 atau PS4, namun menurut saya menguras banyak dana, karena saya harus menyiapkan televisi, dan lain lain. Akhirnya tanpa ragu saya beli PSVita.

Konsol ini mengajarkan hal baru pada saya. Bagaimana saya harus belajar menghargai hak cipta (umumnya game PSVita original, harus beli game card atau online), bagaimana saya harus memahami sistem Sony hingga memahami cara kerja game itu sendiri, mengingat saya sudah lama sekali tidak bermain game.

Di satu sisi, saya inginnya cepat mengerti, minta diajarkan orang dan langsung tahu. Namun saya sadar itu tidak efisien, seperti faktor waktu yang harus diluangkan untuk ketemu dan menurut saya itu merepotkan orang lain. Saya pun harus belajar dari pengalaman serta tanya melalui WhatsApp atau BBM.

Di sisi lain, perlahan saya menikmati proses pembelajaran ini sebagai sesuatu yang mendewasakan. Lho, bagaimana mungkin game mendewasakan? Karena memahami PSVita memang memerlukan pengertian, tidak asal bermain. Pun beberapa game yang dirilis ditujukan oleh pemain remaja ke atas hingga dewasa. Artinya diperlukan pengetahuan dan pemahaman.

Saya nggak tahu akan bertahan berapa lama PSVita saya ini, karena begitu banyak hal yang harus dikerjakan setiap hari. Pekerjaan, relasi dengan sahabat, membangun masa depan, hingga terpikir untuk studi lagi. Rasanya nggak ada waktu untuk bermain. Tapi saya nggak mau imajinasi saya tumpul. Saya yakin game, komik, dan berbagai literatur itu menajamkan imajinasi sehingga mengurangi stres dalam pekerjaan.

Salah satu alasan utama mengapa saya memilih game konsol (atau handheld, atau apapun sebutannya), ketimbang game yang ada di iOS atau android adalah sistem monetisasi gamenya. Pada game konsol, kita membeli game nya di muka dan bisa menikmatinya hingga tamat. Taruhlah kita bayar Rp 100 ribu untuk sebuah game PSVita. Kita bisa menikmati game itu sampai tamat tanpa perlu bayar lagi (kecuali tambahan minor seperti skin, map, dll tapi tidak mengganggu inti cerita game). Sementara game iOS dan Android kebanyakan seperti ini: kita digratiskan di awal, namun untuk bisa menyelesaikan stage atau misi mau tak mau kita harus beli sesuatu. Dan ini harus dilakukan berulang kali. Ini menjadi skema umum dari mobile apps. Ada yang menyebutnya in-apps purchase dan semacamnya. Game monetization bisa memaksa seorang player menghabiskan dana hingga puluhan juta untuk menamatkan sebuah game dengan mulus. Kalaupun tidak bayar, kita akan berhadapan dengan kebosanan menunggu (memakan waktu jauh lebih lama).

Sebenarnya PS Store melakukan game monetization juga, namun dalam kadar yang lebih ringan. Kebanyakan game bisa dinikmati sekali bayar. Ini adalah hal yang sedang saya pelajari, mungkin yang saya sampaikan ada yang kurang tepat, mohon bisa dikritik agar saya semakin paham.

Bermain game PSVita adalah salah satu cara saya untuk menolak tua, Bagaimana dengan kamu?