Truck Hitch Hiker

Young Terrorist (Source: http://v-images2.antarafoto.com/rp-pr_1329477601_re_455x280.jpg)
Young Terrorist
(Source: http://v-images2.antarafoto.com/rp-pr_1329477601_re_455x280.jpg)

If you ever passing truck-route in Jakarta, you will see an uncommon view, dangerous, but widespread in greater area: Truck Hitch Hike. A band of kids or teen stopping truck or pick-up car to get a free ride, following the truck route. The odd way is they stopping the truck in the middle of the highway. Sometimes it makes traffic jam (or if it jammed already, making it worse) and dangerous.

This acts reminiscing me of action movies, which inflicting some kind of tropical terrorist. Stopping a truck, not only checking the load, sometimes hi-jack or taking over the truck. So I called this punks young terrorist. They’re not only making the road more dangerous, more jamming, and making the truck driver uneasy. Imagine if accident happened involving this young terrorist, the driver will be interrogated by the authorities, also men are prohibited seating other than car/ truck cabin.

So I recommend not to give the young terrorist hitch hike to any kind of vehicle for the sake of safety. If you find a group of young terrorist try to stop a truck, please contact to nearest authorities (Police or DLLAJR).

 

Life is Sequential

Stiker dari komik antologi "Hujan"
Stiker dari komik antologi “Hujan

Pada suatu masa, sewaktu kita melihat suatu fenomena yang baru saja terjadi, terkadang kita terheran-heran. Seolah kita berada di atas fenomena tersebut dan ketika kita melihat ke bawah, cibiran terbersit dalam benak kita (walau kadang kita enggan mengakuinya).

Pada masa yang lain, kita menjadi bagian dari suatu fenomena yang kemudian menjadi buah bibir di masyarakat. Ada yang dengan terbuka mengakui, ada yang menyangkal habis-habisan.

Saya sering menjumpai hal tersebut di media sosial. Saya menyebutnya : Semua itu ada masanya(*). Sebagai contoh, kita sedikit banyak pernah menggunakan bahasa slang, prokem, alay, dan sebagainya dengan kadar yang berbeda-beda. Di sisi lain, ketika ada fenomena kecanduan media sosial, mungkin beberapa di antara kita menyangkal (tapi tiap hari berstatus di Facebook).

Semua itu ada masanya. Seperti halnya saat ini hal-hal berbau ’80 dan ’90an sedang gandrung, mungkin sepuluh atau dua puluh tahun lagi, hal-hal berbau ’14 an akan ramai dibicarakan.

Slogan yang saya buat itu mungkin bahasa gaulnya Life is Sequential.

Hal di atas menjadi analogi dari berbagai peristiwa hidup yang saya alami. Kadang saya senang, bahagia, gembira atas sesuatu hal. Misalnya ketemu teman lama, bisa memecahkan masalah bersama tim kerja, atau gembira karena bisa tamasya. Di momen lain, saya mengalami stres karena pekerjaan, tugas, dan sebagainya. Saya selalu ingat, kebahagiaan dan juga kesedihan itu takkan berlangsung lama. Setelah masanya berlalu, akan hadir masa yang berbeda.

Ada yang menganalogikan hidup itu seperti roda: kadang di atas, kadang di bawah.

Bisa juga diartikan demikian. Tapi ya semua itu ada masanya.

P.S.: ilustrasi diambil dari stiker bonus dari komik antologi “Hujan” karya Disko Komik dari Forum Komik Yogyakarta. Beli ya!

Keep Writing!

I often get a writer’s block. No idea at all, or worse, good idea in a bad time (on the traffic, for example). When I get a good time to write, I don’t know to write at all. Silly thing: have a simple mind but sometimes over thinking and not saving them or put into words.

My friend, a comic writer says, if you busy talking other or commenting, you actually do nothing. Being commentator only worthy at soccer match in TV (even the audience actually don’t give a shit about the comments).

All the lessons I’ve learned about how to make a good writing slowly faded since I’ve seldom using it. Most of my time spend watching movies, and commenting over it, taking some lesson (that actually not really useful, since they are fiction anyway).

I will post more writings, even the shittiest one. Feel free to walk in or walk away from my blog. I do really hope my words have meaning to you (or just spend your another minutes). Ta-ta.

(Bapa Kami) أبانا

أَبَانَا الذِي فِي السَّمَاوَاتِ،
لِيُقَدَّسَ اسْمُكَ.
لِيَأْتِ مَلَكُوتُكَ،
لِتَكُنْ مَشِيئَتُكَ فِي الأَرْضِ كَمَا السَّمَاءِ.
ارْزُقْنَا خُبْزَنَا كَفَافَ يَوْمِنَا،
وَ اعْفُ عَنْ خَطَايَانَا،
فَإِنَّنَا نَعْفُو عَمَّنْ يُخْطِئُونَ بِحَقِّنَا.
لاَ تُعَرِّضْنَا لِلغِوَايَةِ،
بَلْ نَجِّنَا مِنَ الشِّرِيرِ.
فَلَكَ المَلَكُوتُ وَ الجَبَرُوتُ وَ المَجْدُ أَبَداً.

Bapa Kami

Jakarta Dua Pagi

Tidak ada tempat untuk berbual tanpa alasan. Tapi ketidaksinkronan antara otak dan fisik memaksa dan mendera untuk tetap beraksi, hidup di kala manusia pada umumnya terlelap.

Iya. Hidup itu banal. Lebih banal lagi di ibukota. Segala sesuatu terukur, tetapi fana. Impian bertumpuk hingga berbusa ruah, tetapi sedikit sekali yang bisa keluar dari kerumunan buih. Banyak yang pudar, berpendar semu, dan menghilang begitu saja. Mestinya saya tak perlu menyalahkan ibukota. Memang manusia begini adanya.

Mungkin sisi terangnya adalah, ketika ide dan gagasan sahut menyahut hingga menumbuhkan cabang – cabang, saya bisa menuliskannya dengan penuh kepuasan diri. Puas di antara belantara material, pikiran saya masih berlimpah ruah. Andai pikiran ini berbuah mata uang dengan sekejap mata… Dan tanpa aksi, pengandaian itu tak lebih dari awan yang terlihat indah namun tak terjangkau.

Tak baik hanya berharap dan berbual tanpa aksi. Mari! bertindak!

1497731_3854258250185_49134699_n(*)Foto diambil di Amerika Serikat pada bulan Agustus 2013 menggunakan kamera LC-A+