Mulai Ngeblog

Mulai NgeblogTulisan ini saya dedikasikan kepada teman kerja, sahabat,  dan juga keluarga di Mabua Harley-Davidson.

Pertama-tama, saya akan menyatakan bahwa menulis itu bukan bakat semata. Saya nggak merasa berbakat dalam menulis; terkadang saya takjub dengan penulis-penulis handal yang mahir dalam mengendalikan pembaca dan menyetir hingga tulisan itu berakhir. Menulis itu berawal dari keinginan dan kebutuhan. Layaknya kita butuh beli baju bagus, menulis itu bisa menjadi kebutuhan untuk menyalurkan gagasan yang terpendam.

Kita bisa memulai menulis dengan menjawab pertanyaan ini, “Ngapain saya nulis?”
Purpose atau tujuan menulis itu penting nggak penting. Saya katakan penting, ketika kita benar-benar punya keinginan yang kuat untuk menjadikan tulisan itu bermakna dan berguna bagi orang lain. Saya juga katakan nggak penting, ketika kita menganggap tulisan kita hanya sebatas konsumsi pribadi yang tak ingin disebarluaskan, serta tidak dibatasi oleh batas-batas tertentu. Termasuk ngeblog.

Seperti halnya menulis, ngeblog pun bisa bertujuan macam-macam. Saya ingin memberi contoh dengan hal yang paling mudah, menceritakan apa yang ada di pikiran, baik itu uneg-uneg, pendapat, kisah hidup, cerita lucu, hingga analisis kalau yang rajin mengumpulkan data.

Apapun alasan Anda untuk menulis, yang terpenting tulislah. Ada banyak cara untuk menulis: notes, notepad, notebook, tablet, smartphone, post it note, dll. Semuanya adalah medium untuk menulis. Bila kita ingin ngeblog, saya sarankan memanfaatkan teknologi digital untuk memudahkan pengarsipan.

Ngeblog tak harus berkiblat pada pakem merek blog tertentu. Kita bisa gunakan Blogger, WordPress, Tumblr, Medium, Wattpad, bahkan Facebook. Masing-masing media mempunyai karakteristik yang unik dengan potensi audience yang beragam. Banyaknya pilihan jangan sampai menghalangi niat untuk ngeblog. Buat saya, media itu penyalur dari gagasan kita, bukan gagasan kita itu sendiri. Jadi, apapun medianya bisa kita gunakan untuk ngeblog.
Berikut saya bagikan tips sederhana untuk memulai ngeblog:

  • Tulis hal-hal yang menarik dalam bentuk gagasan besarnya kemudian di breakdown menjadi poin-poin yang ingin disampaikan. Poin ini nantinya akan dikembangkan menjadi paragraf-paragraf yang dirangkai menjadi satu tulisan utuh.
  • Tulislah segera begitu ide atau gagasan datang. Seringkali kita di jalan terbersit gagasan seru yang kemudian ingin kita tulis, tetapi kita simpan dulu. Ketika ada di depan komputer, gagasan itu buyar dan kita lupa sama sekali apa yang mau kita tulis.
  • Simpan tulisan-tulisan itu dalam sebuah arsip. Saya mengandalkan Evernote untuk menyimpan tulisan-tulisan saya. Anda bisa menggunakan Google Drive yang juga gratis serta terintegrasi antara website, mobile, dan juga komputer. Semakin banyak tulisan yang terkumpul, semakin kita bisa mengatur konsistensi dalam ngeblog.
  • Tulisan yang siap diangkat di blog dinaikkan bertahap. Bisa menggunakan fitur scheduled post pada beberapa media blog sehingga kita terlihat produktif dengan frekuensi posting yang teratur. Ini akan membuat kita lebih terbiasa menulis, serta pembaca juga bisa mengikuti dengan rutin, ada fitur RSS Feed atau Reader di WordPress untuk subscribe blog.

Demikian artikel singkat tentang ngeblog, semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Advertisements

Review Pomade Layrite Superhold

Pomade beraroma srikaya
Pomade beraroma srikaya

Tampil dandy dan rapi itu sebenarnya pilihan. Ada sebagian orang yang nyaman dengan tampilan rapi klimis yang dipadu padankan dengan pilihan busana kasual dan formal. Dan itu termasuk saya. Terlebih ketika saya banyak beraktivitas di luar ruang, pomade yang tepat akan menjaga rambut tertata rapi, tetap pede, dan juga nyaman.

Layrite sebagai salah satu brand pomade yang berasal dari Negeri Paman Sam memiliki beberapa varian pomade. Buat saya hanya satu variannya yang paling cocok: Layrite Superhold.

Pertama kali saya mencoba pomade tahun lalu dengan Layrite Superhold. Selain aromanya oke, mudah dicolek dan diratakan, juga mudah dibilas karena sifatnya yang water-based. Ini membuat saya lebih mudah menjaga rambut dan merawatnya, nggak sekedar menata dan merapikan.  Sayapun mem-bookmark Layrite Superhold sebagai salah satu recommended pomade.

Aplikasi pertama kali saya lakukan pada rambut dengan potongan mullet. Saat itu hasilnya nggak sangat rapi, tapi saya puas. Rambut tetap pada tempatnya setiap saat, setidaknya dari pagi hingga sore pulang kantor. Setelah rambut mulai memanjang, saya mencoba cukur di barber dan ternyata barber shop nya pun menggunakan Layrite. Terakhir kali saya cukur di Barber Bros dan mereka pun menggunakan Layrite. Sepertinya cukup banyak barber shop yang memilih Layrite sebagai pomade mereka.

Dari beberapa water-based pomade, saya puas dengan Layrite Superhold. Selain produknya tidak berubah meski sudah dibuka dalam waktu lama, juga aroma dan daya set nya baik. Dari aspek harga bisa dibilang menengah (sekitar Rp 200 ribuan), namun dengan kemasan yang cukup besar untuk digunakan sebagai men’s supply selama lebih dari 1 bulan (untuk penggunaan 2-3 kali seminggu).

P.S.: Thanks to bro Eldrian & bro Satryo yang mengenalkan saya pada Layrite

Flash Trip to Puncak

A good trip must be well planned. Make an itinerary, look up the route and planning activities at the destination. And I do the same. Except for a flash trip.

I do a flash trip in this Saturday. This time I only asked advice from my friends as my only plan.

No proper riding gear. Not recommended, but quite comfortable in the middle of rain.

In my whole life, I’ve never went to Puncak. Even in this fourth year I’ve been in Jakarta, I’ve never there. It’s a common destination for Jakartan, escape the metropolis hecticness and breathe the fresh-mountain air. And I must there, someday. That’s my pledge to myself.

So be it. At Friday, I thought a wild idea to have flash trip to Puncak with Tika. And she agreed. If I talked about flash trip, the destination must be able to reach by my vehicle, which is a scooter. So in the Saturday, me and Tika decide to go to Puncak with a scooter.
In this rainy season, it’s not really good idea to have trip to Puncak, especially with motorcycle. Not only you will drenched by the rain, but also high possibility of landslide in Puncak area. But I never think them as an important obstacle. All that I need is just go. With no detailed plan at all.

It's cold. But not that freezing cold. Yet it's cold.
It’s cold. But not that freezing cold. Yet it’s cold.

When the day come, I wake up late. Planned to go at 6 but we really departed at 9. Thought will be high traffic but no. Maybe because the rain’s just keep pouring. It’s an advantage because the road quite cool, unlike usual hot and humid. So we just go. We brought a lunch box to be eaten at  Puncak since we have no exact destination.

People telling me that the road to Puncak is easy. Just go straight, follow the traffic direction and you will arrived with no problem. It’s true. The normal route is easy, since there’s no shorter route than just go straight. The hardest part is just dealing with traffic jam in some spots. I need no worry for other. Plenty gas station, mini market, and food stalls along the route. If you feel tired, urge of pee, or sleepy, or hungry, just pull over.

Unfortunately I don't have Wedang Jahe Kalengan
Unfortunately I don’t have Wedang Jahe Kalengan

Not thinking much about trip in advance is an advantage. You’re not worrying about the obstacles, length, duration or anything. What you think is just ride. I spent 4 hours one way (8 hours for total round trip). It was tiresome, but to think that I am able to take the ride, I must be proud. Only around 1 hour spent at the Puncak. I stop at coffee shack on the corner of Masjid Attawun; the landmark of Puncak.

Some things I’ve noticed during the trip:

1. The Middle East area in Puncak is true. Even the telco operator advertisement use bilingual (Indonesia and Arabic). It’s kind of unique to find some Middle East restaurants in the highland. Middle East in my mind usually related with desert.
2. The wind is not too cold, even in heavy rain. But when the fog come, it much colder.
3. Puncak pass is not only a tourism object but also route to Bandung, so you will find some group of bikers passing by.
Overall, I do recommend to have flash trip with motorcycle, even in the rainy season.

The moment when you're able to endure in the storm, face the heavy rain, and finally arrived safely: priceless.
The moment when you’re able to endure in the storm, face the heavy rain, and finally arrived safely: priceless.

Apology

In this modern world, brand should be performed as a human. Brand which stand like an announcer, not listening to the audience nor pay attention to them will be left. 

That’s the marketing theory I’ve learned in school and it’s true. They should put themself equal with the crowd. They must present in between people, not in high above the cloud.

Today I learn how important brand to saying something, especially when people complaining about the brand. Saying means making apology if necessary. 

I will use an example how a famous sportswear brand organized their second running event called #BajakJKT, a running event for public, expecting to have more than fifteen thousand participants (in real counting, there were around eight thousand participants that succeed running into finish line), to make a signature marathon run that will be remembered as an awesome event.

It turns as bad perceive when people remembering #BajakJKT. 

Short story, #BajakJKT that held in the Saturday afternoon turns into a chaos run which runner troubled with so many walking participants, taking selfie or wefie photos while the road getting dreadlock since the run route closed for crossing. Before all runner arrived in finish line, the running route has been rushed by vehicles impatiently because they suffer traffic jam much worse than any days.

Cars shouting, motorcyclist swearing, and also the participants feel wronged with the event.

After all bad impression about #BajakJKT (Twitter timeline filled with so many complaints), there’s no clarification, final statement, or even apology. Until this time, people are waiting The brand saying something about bad impact of #BajakJKT. Then people rethink about the brand. About the brand’s jargon. About “#BajakJKT”.

I think all that people asking is an apology. For making a dreadlock traffic. For chaos that happened during the event, despite most of participants looks happy to be part of it. For ignoring people’s complaints.

I have quite similar story but turns to be a good ending.

Everyone knows Harley-Davidson. Most people notice its bikes by thundering sound everytime a Harley passing by. And traffic jam when a group of Harley rider across the street.

One day a Harley community held an anniversary event in Bogor city. Most of Jakartan (and Bogorian as well) know that in the normal weekend, Bogor is an hell of traffic. Almost every street packed with vehicles, those who want enjoy weekend in Bogor. The event committee know this too. As a preventive act, they put a big billboard in the center of the city, that saying apology will making Bogor quite more jammed because of the event.

Of course it doesn’t end at saying apology. Police and Transportation Dept. Officers working harder, not only supporting the event but also manage the main road that most Harley rider will be passing through.

End of story, people are still complaining, amplified with online media coverage, but less than the anticipated. People still able to enjoy Bogor. From this point, communicate to the people and taking apology is a good step. To become human and put aside arrogance.

I’m not defending that Harley community because I’m working in Harley dealer, but putting concern not only to those who love the brand but also people in general is good. Win their heart and in return people will win the brand.

Review Komik Grey & Jingga

So sweet isn't it?  © Sweta Kartika
So sweet isn’t it?
© Sweta Kartika

Ketika kita jatuh cinta, daya imajinasi kita melesat tinggi. Tiba-tiba kita menjadi melankolis, dramatis, terkadang hiperbolis. Kita juga mendadak mahir dalam berkode, berharap pasangan kita sedemikian cerdas sehingga memahami kode yang kita ciptakan.

Sweta Kartika dengan cara yang mudah dimengerti, mewujudkan pengalaman dan kisah yang dialami oleh kita semua dalam cerita yang manis, sehingga bisa dinikmati oleh siapapun. Grey & Jingga adalah komik yang berkisah tentang relasi Grey, Jingga dan teman-teman di sekitarnya.  Karakter Grey yang kurang ekspresif membuat penasan Jingga yang naksir padanya tetapi jaim setengah mati. Di samping Grey & Jingga, ada beberapa karakter protagonis dan antagonis yang mendapat porsi kemunculan yang cukup baik, tidak sekedar lewat saja. Lihat relasi Zahra dengan Dharma yang harmonis dan menjadi pendukung sahabat-sahabatnya. Martin, Fani, dan Nina yang menjadi bumbu romantisme memunculkan dinamika cerita, ada konflik, ada resolusi, dan akhirnya semuanya belajar menjadi lebih dewasa. Saya memilih menggunakan kata “relasi” karena memang dalam ceritanya tidak hanya tentang “pacaran”. Juga kehadiran tokoh free man “Zaki” menambah semarak cerita Grey & Jingga.

Komik ini pertama kali muncul di Facebook Sweta pada Oktober 2012, berjalan hingga Januari 2014. Awalnya dibuat dari keisengan mengomikkan curhat dengan kode #nomention; sebuah konsensus bagi mereka yang ingin menyindir tetapi enggan berterusterang. Grey & Jingga dengan tepat dan jitu menohok mereka yang sulit berterus terang dengan pasangan atau gebetan.

 

Akuilah kita sering mengalaminya (maaf, bukan buat jomblo ting ting). © Sweta Kartika
Akuilah kita sering mengalami #jleb
© Sweta Kartika

Grey & Jingga dibuat seperti komik 5 kolom yang sederhana sehingga semua orang bisa menangkap pesan pengarang dengan lebih gamblang. Tokoh-tokoh yang hadir seperti Grey, Jingga, Dharma, Zahra, Nina, dan lainnya seolah diambil dari kisah nyata. Tokoh rekaan ini hidup dan menjadi hidup di pembacanya. Tak sedikit yang bertanya, di manakah mereka kuliah, di mana tinggalnya, seolah mereka hidup seperti manusia pembacanya.

Setelah satu tahun berjalan dan mendapat respon yang luar biasa di Facebook, begitu banyak yang berkomentar dan berbagi, maka Grey & Jingga dibukukan oleh Koloni dengan judul lengkap Grey & Jingga: The Twilight. Inilah wujud dari kekuatan media sosial terhadap industri kreatif seperti komik: menciptakan pasar yang akan menyerap komik tersebut, tanpa perlu promosi yang berlebihan. Hasilnya, komik Grey & Jingga masuk cetakan kedua pada tahun yang sama diterbitkan. Ini juga menepis anggapan bahwa mencetak komik itu rugi, apalagi sebelumnya ada versi digitalnya.

Selain muncul di Facebook dan buku komik (beberapa cerita hanya muncul di buku komik), juga muncul album soundtracknya (yang diproduksi secara swadaya dan menjadi bagian tak terpisahkan dengan komik) beserta berbagai merchandise seperti poster, stiker, t-shirt, dan yang terbaru yang muncul di PopCon Asia 2014 adalah side story berjudul Coffee 42 yang memuat relasi Grey & Jingga seperti menceritakan kisah di sebuah kafe. Juga prekuel (saya menyebutnya prekuel karena bersetting sebelum komik yang pertama) singkat, bagaimana Grey & Jingga bertemu pada masa kecil dalam cerita “Twinkle“. Coffee 42 diterbitkan secara swadaya, terpisah dengan Grey & Jingga dan menjadi collectible item tersendiri.

Sosok Sweta sebagai komikus muda cukup fenomenal di kalangan industri kreatif sebagai salah satu komikus yang disiplin dan produktif. Sweta mematahkan mitos di masyarakat bahwa komik hanya untuk anak-anak dan tak bisa diseriusi menjadi mata pencaharian. Sweta dan banyak komikus muda Indonesia masa kini ingin mengembalikan kejayaan komik Indonesia pada masa lampau: masyarakat Indonesia bangga terhadap komik Indonesia.