Kasta

Dalam pekerjaan profesional, jabatan yang tinggi tentu memberi imbalan yang tinggi pula. Namun rupanya sentimen terhadap latar belakang pendidikan memengaruhi imbalan yang akan diterima seorang pegawai.

Kita bisa lihat pengkastaan ini dalam dinamika di kota-kota besar, terlebih lagi di ibukota. Berdasarkan pengamatan saya, berikut kasta yang terbentuk mulai dari yang tertinggi:

Kasta #1 : Ekspatriat

Tanpa bermaksud merendahkan, bule-bule itu digaji hingga 1000% lebih besar ketimbang tenaga kerja profesional dalam negeri dengan tugas dan kewenangan yang hampir sama. Umumnya mereka dipekerjakan di organisasi internasional. Di kalangan ekspatriat tentu ada yang cerdas brilian ada yang tidak. Ekspat yang paling kurang pintar pun gajinya pasti lebih tinggi dibanding profesional lokal yang cerdas.

Kasta #2: Lokal Lulusan Luar Negeri

Ada paradigma yang menyebutkan pendidikan luar negeri itu lebih baik ketimbang dalam negeri. Itu benar. Tapi apakah lulusan pendidikan luar negeri itu lebih baik ketimbang lulusan dalam negeri? Itu soal lain. Masih banyak perusahaan yang mementingkan lulusan luar negeri meski minim pengalaman dan reputasi ketimbang lulusan dalam negeri.

Kasta #3: Lokal Lulusan Sekolah Negeri

Cara berpikir masyarakat pada umumnya masih bergaya feodal, terbukti dengan berbondong-bondongnya masuk ke sekolah negeri, tanpa memandang minat studi. Yang penting masuk sekolah negeri. Umumnya alumni sekolah negeri mendapat kesempatan yang lebih luas (lebih diutamakan) dalam rekrutmen, dan peluang untuk mendapatkan posisi yang tinggi lebih besar.

Kasta #4: Lokal Lulusan Sekolah Swasta

Sehebat apapun sekolahnya, swasta selalu di bawah bayang-bayang negeri. Meski telah menelurkan juara olimpiade, menghasilkan hacker terhebat, desainer terkemuka, hingga bankir jempolan, swasta tetap dinomorduakan dibanding negeri. Agar para alumni bisa bersaing dengan negeri, jaringan sesama alumni kerap kali menyelamatkan. Bila ada alumni yang sukses menjadi top manajemen di sebuah perusahaan, maka dia akan merekomendasikan alumni sekolahnya untuk mengisi jabatan di perusahaan tersebut.

Kasta #5: Otodidak

Ini adalah kasta yang bisa dianggap kuda hitam. Bila mereka tidak berusaha keras menjadi yang utama di bidangnya, semua orang menganggapnya angin lalu. Dianggap tak berpendidikan, atau nir sarjana. Mereka dipandang sebelah mata, tetapi karena semangatnya, ketekunannya, serta keahliannya kemudian menjadi orang berpengaruh di bidangnya, hingga tak sedikit orang yang berguru pada mereka.

Pengkastaan ini bukan bermaksud untuk mengkotak-kotakkan individu, tetapi agar kita sadar, dunia pekerjaan itu bukan dunia yang sepenuhnya obyektif. Banyak sekali preferensi subyektif yang masuk dalam proses rekrutmen dan penggajian. Jangan sedih ketika kita tidak diterima dalam perusahaan yang kita dambakan, tetapi berusahalah dan berikan yang terbaik sehingga reputasi dan prestasi mengalahkan hirarki kasta.

Advertisements

Review Komik Grey & Jingga

So sweet isn't it?  © Sweta Kartika
So sweet isn’t it?
© Sweta Kartika

Ketika kita jatuh cinta, daya imajinasi kita melesat tinggi. Tiba-tiba kita menjadi melankolis, dramatis, terkadang hiperbolis. Kita juga mendadak mahir dalam berkode, berharap pasangan kita sedemikian cerdas sehingga memahami kode yang kita ciptakan.

Sweta Kartika dengan cara yang mudah dimengerti, mewujudkan pengalaman dan kisah yang dialami oleh kita semua dalam cerita yang manis, sehingga bisa dinikmati oleh siapapun. Grey & Jingga adalah komik yang berkisah tentang relasi Grey, Jingga dan teman-teman di sekitarnya.  Karakter Grey yang kurang ekspresif membuat penasan Jingga yang naksir padanya tetapi jaim setengah mati. Di samping Grey & Jingga, ada beberapa karakter protagonis dan antagonis yang mendapat porsi kemunculan yang cukup baik, tidak sekedar lewat saja. Lihat relasi Zahra dengan Dharma yang harmonis dan menjadi pendukung sahabat-sahabatnya. Martin, Fani, dan Nina yang menjadi bumbu romantisme memunculkan dinamika cerita, ada konflik, ada resolusi, dan akhirnya semuanya belajar menjadi lebih dewasa. Saya memilih menggunakan kata “relasi” karena memang dalam ceritanya tidak hanya tentang “pacaran”. Juga kehadiran tokoh free man “Zaki” menambah semarak cerita Grey & Jingga.

Komik ini pertama kali muncul di Facebook Sweta pada Oktober 2012, berjalan hingga Januari 2014. Awalnya dibuat dari keisengan mengomikkan curhat dengan kode #nomention; sebuah konsensus bagi mereka yang ingin menyindir tetapi enggan berterusterang. Grey & Jingga dengan tepat dan jitu menohok mereka yang sulit berterus terang dengan pasangan atau gebetan.

 

Akuilah kita sering mengalaminya (maaf, bukan buat jomblo ting ting). © Sweta Kartika
Akuilah kita sering mengalami #jleb
© Sweta Kartika

Grey & Jingga dibuat seperti komik 5 kolom yang sederhana sehingga semua orang bisa menangkap pesan pengarang dengan lebih gamblang. Tokoh-tokoh yang hadir seperti Grey, Jingga, Dharma, Zahra, Nina, dan lainnya seolah diambil dari kisah nyata. Tokoh rekaan ini hidup dan menjadi hidup di pembacanya. Tak sedikit yang bertanya, di manakah mereka kuliah, di mana tinggalnya, seolah mereka hidup seperti manusia pembacanya.

Setelah satu tahun berjalan dan mendapat respon yang luar biasa di Facebook, begitu banyak yang berkomentar dan berbagi, maka Grey & Jingga dibukukan oleh Koloni dengan judul lengkap Grey & Jingga: The Twilight. Inilah wujud dari kekuatan media sosial terhadap industri kreatif seperti komik: menciptakan pasar yang akan menyerap komik tersebut, tanpa perlu promosi yang berlebihan. Hasilnya, komik Grey & Jingga masuk cetakan kedua pada tahun yang sama diterbitkan. Ini juga menepis anggapan bahwa mencetak komik itu rugi, apalagi sebelumnya ada versi digitalnya.

Selain muncul di Facebook dan buku komik (beberapa cerita hanya muncul di buku komik), juga muncul album soundtracknya (yang diproduksi secara swadaya dan menjadi bagian tak terpisahkan dengan komik) beserta berbagai merchandise seperti poster, stiker, t-shirt, dan yang terbaru yang muncul di PopCon Asia 2014 adalah side story berjudul Coffee 42 yang memuat relasi Grey & Jingga seperti menceritakan kisah di sebuah kafe. Juga prekuel (saya menyebutnya prekuel karena bersetting sebelum komik yang pertama) singkat, bagaimana Grey & Jingga bertemu pada masa kecil dalam cerita “Twinkle“. Coffee 42 diterbitkan secara swadaya, terpisah dengan Grey & Jingga dan menjadi collectible item tersendiri.

Sosok Sweta sebagai komikus muda cukup fenomenal di kalangan industri kreatif sebagai salah satu komikus yang disiplin dan produktif. Sweta mematahkan mitos di masyarakat bahwa komik hanya untuk anak-anak dan tak bisa diseriusi menjadi mata pencaharian. Sweta dan banyak komikus muda Indonesia masa kini ingin mengembalikan kejayaan komik Indonesia pada masa lampau: masyarakat Indonesia bangga terhadap komik Indonesia.

Review Komik Battle: Archfriends Comic Compilation Volume 0

Evernote Camera Roll 20141001 094236
Gambar diambil dari Archie The Red Cat

Pada perhelatan PopCon Asia 2014 bulan September lalu, saya bertemu dengan banyak komikus yang selama ini hanya saya simak komiknya baik dalam bentuk buku komik dan juga melalui media sosial. Salah satu komikus yang saya kenal sudah lama berkiprah di dunia komik adalah Archie The Red Cat. Beliau sudah mengomik sejak tahun 2000an, dimana komik Indonesia masih bergerilya dan berjuang mati-matian agar naskahnya diterima oleh Elex Media Komputindo sebagai penerbit komik yang terbesar di Indonesia kala itu. Saya pernah punya komik berjudul Scarlet yang dibuat oleh Archie The Red Cat bersama dengan Petshop Studio.

Saya juga mengenal seorang Azisa Noor yang komiknya selalu membuat saya tercengang oleh permainan kuas dan cat lukisnya, seolah saya membaca sebuah lukisan, bukan sekedar komik. Gambarnya berkesan teduh dan terasa lebih membumi. Tak disangka ternyata saya menemukan mereka berdua membuat sebuah komik kompilasi berjudul Battle. Mereka tergabung dalam sebuah grup komikus dengan nama Archfriends. Battle adalah debut pertama Archfriends yang diberi kode Volume 0.

Saya belum pernah mendapat teaser mengenai komik kompilasi ini, sehingga ketika saya memutuskan membeli, merupakan surprise buat saya. Archfriends terdiri dari Archie The Red Cat, Azisa Noor, Rama Indra, dan Marwan Islami (Ai). Terus terang saya belum familiar dengan dua nama terakhir, tetapi saya nggak meragukan lagi dua nama pertama yang sudah saya kenal sebelumnya sehingga saya yakin komik kompilasi ini pasti oke.

Prediksi saya tepat.

Nampaknya Archfriends serius menggarap komik kompilasi ini dengan tidak sekedar memunculkan kompilasi yang “yang penting nyambung tema”, tetapi sebenarnya adalah masterpiece dari masing-masing komikus yang dikumpulkan menjadi satu buku.

Battle sebagai tema komik kompilasi tersebut mengetengahkan bagaimana manusia menghadapi pertarungan, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Beberapa karya mengambil bagian dari kehidupan manusia sehari-hari, sehingga seolah nyata, seperti halnya kita sendiri yang mengalaminya. Empat cerita di dalamnya tidak diberi judul secara spesifik, tetapi menggunakan satu nama yang digunakan sebagai tema: Battle. Keempatnya menggunakan pendekatan dan cerita yang berbeda sehingga Battle  menjadi berwarna.

Salah satu keunikan Battle adalah sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris, sehingga dapat dinikmati oleh siapapun, termasuk pembaca di luar Indonesia. Komik kompilasi yang rencananya terbit setahun sekali ini layak menjadi bagian dari koleksi buku komik sebagai khazanah komik lokal Indonesia. Battle diterbitkan secara swadaya oleh Archfriends.

Bila Anda tertarik dapat menghubungi Archfriends. Mari kita dukung komik lokal dengan membelinya.

End note: Menurut Archie The Red Cat, akan muncul Archfriends Volume 1 tahun depan. Mari kita tunggu kehadirannya!

Pilpres 2014

Seperti yang terjadi sebelumnya, pilpres atau pemilu selalu membawa hal-hal yang pilu. Harga bahan pokok melonjak, inflasi meroket, nilai tukar kurs membubung tinggi, dan ketidakstabilan situasi sosial politik selalu menyertai pilpres. Saking biasanya, kita menghadapi masing-masing secara parsial dan tidak melihat dari sudut pandang yang lebih luas.

Tahun 2014 ini beberapa hal yang saat ini terjadi adalah saling tuduh antar kubu pendukung calon presiden. Tahun ini pasangan capres yang beradu adalah Joko Widodo – Jusuf Kalla vs Prabowo Subianto – Hatta Rajasa. Kuatnya masing-masing pendukung kubu hingga melahirkan berbagai kampanye hitam untuk saling menjatuhkan. Tepat sebelum pemilu, pemerintah menaikkan beberapa komponen pajak yang jelas berdampak pada bisnis. Kebetulan tempat saya bekerja terkena dampaknya secara signifikan. Tak hanya tempat saya bekerja, tapi banyak lagi yang ikut berdampak dari kenaikan pajak ini. Awal Juni 2014 indikasi nilai tukar rupiah terhadap dollar melemah.

Tanggal 3 Juni 2014 tercatat nilai tukar berada di level Rp 11.800/ 1 USD. Tentu ini bukan akhir. Masih ada potensi untuk terus melemah. Pemerintah rupanya menyimpan “warisan” berupa hutang sebesar USD 2 miliar lebih, yang sewaktu-waktu bisa meledak dalam bentuk inflasi. Juga beberapa konflik SARA muncul, seperti kasus penyerangan di Yogyakarta terhadap sekelompok orang yang beribadah di rumah dan juga penyerangan rumah pendeta dan muncul beberapa vandalisme ofensif di kota yang sama ingin memprovokasi dan mengguncang ketertiban dan keamanan di kota yang disebut kota multikultural.

Saya melihat secara luas hal-hal ini terjadi secara disengaja untuk menciptakan instabilitas sosial politik nasional. Umpan-umpan maut ini mungkin belum berdampak sangat signifikan secara nasional. Namun sedikit banyak akan berdampak di pemerintahan yang Jawa-sentris ini. Saya masih menunggu apakah akan meledak lebih kacau dibanding saat ini ataukah status quo yang terjadi. Saya skeptis akan ada solusi praktis dan logis terhadap persoalan hutang, nilai tukar, dan konflik SARA. Saya pun skeptis siapapun yang menjadi presiden bisa menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Semoga ada bukti yang mematahkan skeptisme saya.

Source: Facebook
Source: Facebook