In Due Time with Killswitch Engage

KSE 02
Photo courtesy Fariz Adnan (https://farm8.staticflickr.com/7734/17349350266_71f9f3cf15_b.jpg)

 

“All in due time, see the world through different eyes.
All in due time, the shadows will give way to light. “

Petikan lirik di atas terus terngiang meski hampir seminggu berlalu sejak saya menonton konser Killswitch Engage di Sonic Fair 2015. Penantian saya menikmati konser band metal favorit terbayarkan saat Jesse Leach dan kawan kawan menggetarkan Ancol pada tanggal 4 Mei 2015.

Saya mungkin bukan early adopter Killswitch Engage (KSE) fans. Saya mengenal mereka saat single “My Curse” meledak di pasaran dan menjadi momentum populernya subgenre metalcore. KSE mungkin bukan band metalcore yang pertama, tetapi KSE mampu membuat banyak telinga menoleh dan memutar ulang musik mereka. Saya adalah salah seorang yang terhipnotis dengan musik KSE sejak tahun 2006. Selama sembilan tahun hingga saat ini, album KSE selalu ada di playlist semua device saya.

CDFX184UUAA9Trk

Ketika saya di WhatsApp oleh mantan atasan saya yang juga metalhead bawa KSE mau konser di Indo, saya langsung pasang mata & telinga. Tepat ketika Sonic Fair diumumkan dengan tamu utama KSE, tanpa pikir panjang saya langsung beli tiketnya. Untuk ukuran band metalcore papan atas, harga tiket Rp 350 ribu (presale) adalah harga yang sangat murah (bandingkan dengan Avenged Sevenfold yang paling murah Rp 500 ribu). Dengan konsep festival, beberapa line up pembuka cukup menggiurkan seperti Seringai dan Burgerkill (masih banyak local line up, tapi dua ini yang saya bisa nikmati) serta bagi metalhead senior, Carcass menjadi sajian istimewa sebelum KSE.

Sebagai informasi, ini adalah kali keempat saya menonton band favorit saya setelah L’arc-en-ciel, P.O.D., dan Totalfat. Saya mengharapkan impresi yang berbeda pada konser KSE ini.

Pada saat L’arc-en-ciel konser, saya terbawa emosi terharu bahagia setelah penantian lebih dari 15 tahun. P.O.D. menjadi konser eksperimen saya untuk mengambil video rekaman. Totalfat adalah momen istimewa saya mendapat kesempatan close up & personal dengan setiap membernya. Kini KSE saya ingin menikmati dengan cara yang berbeda. Penampilan KSE di Sonic Fair 2015 merupakan bagian dari world tour mereka. Di kawasan Asia, tour mereka dinamakan #KSEAsiaTour2015.

KSE 03
Photo courtesy Fariz Adnan (https://farm8.staticflickr.com/7663/17349363966_b57acf9fc3_b.jpg)

 

Sonic Fair 2015 digelar di Ancol Beach City, yang mana untuk konser metal merupakan venue yang tidak biasa. Akses menuju lokasi cukup jauh bila dijangkau dengan transportasi umum. Di samping itu, venue nya itu sendiri lebih tepat disebut ruangan yang setengah jadi ketimbang auditorium. Lantai yang berlapis debu amplas dan juga dekorasi minimalis menjadi bagian dalam Sonic Fair 2015. Cukup mengganggu sebenarnya, tapi ada satu hal yang istimewa bagi saya.

Sonic Fair 2015 surprisingly “sepi” pengunjung. Saya memprediksi penonton mencapai seribuan orang, tapi menurut saya setengahnya saja tidak sampai. Saya menduga mungkin faktor venue dan waktu acara (Minggu malam, which is kebanyakan orang memilih stay di rumah untuk menyiapkan mood kerja hari Senin), tapi buat saya ini adalah keuntungan. Sepanjang konser dari Seringai-Burgerkill-Carcass-KSE, saya bisa mendapat area front row (bahkan saya bisa menyentuh Jesse Leach!) dan masih bisa headbang dengan leluasa. Ekstase warbyasak. Tak hanya Jesse Leach yang menyemburkan energi maksimalnya, Adam Dutkiewicz tak henti bergerak ke setiap sisi panggung, Joel Stroetzel mencabik gitar dengan indahnya, Mike D’Antonio berusaha untuk berkomunikasi dengan gestur tubuhnya, dan Justin Foley di balik drum setnya membius semua penonton untuk headbang & melingkar dalam wall of death.

KSE 01
Photo Courtesy Dresthikill (http://dresthikill.tumblr.com/post/118093748542/killswitch-engage-live-in-jakarta-sonic-fair)

 

Ini set list KSE malam itu yang saya ingat, mungkin ada yang terlewat. Set list ini bukan urutan persisnya:

  • Always
  • The Arms of Sorrow
  • The Call
  • The End of Heartache
  • Fixation on The Darkness
  • In Due Time
  • Life to Lifeless
  • My Curse
  • My Last Serenade
  • New Awakening
  • Numbered Days
  • This is Absolution

Seperti yang sudah diprediksi, hingga tiga hari setelah konser leher kaku keras sampai untuk bergerakpun sakit. Nasib headbanger kurang headbang, jadi lehernya ga lentur. Mungkin tandanya saya harus sering-sering datang ke gig metal seperti ini. Wishlist saya adalah Trivium, The Agonist, X-Japan, Babymetal, Coldrain, dan One Ok Rock.

Kalau kamu ingin tahu siapa itu Killswitch Engage, kamu bisa baca di sini:

Wikipedia

Metal Descent

Kalau kamu ingin tahu lebih dalam tentang Metalcore, bisa dibaca di sini:

Wikipedia

About.com

SlideShare

Metal Descent

 

 

 

 

Advertisements

Kasta

Dalam pekerjaan profesional, jabatan yang tinggi tentu memberi imbalan yang tinggi pula. Namun rupanya sentimen terhadap latar belakang pendidikan memengaruhi imbalan yang akan diterima seorang pegawai.

Kita bisa lihat pengkastaan ini dalam dinamika di kota-kota besar, terlebih lagi di ibukota. Berdasarkan pengamatan saya, berikut kasta yang terbentuk mulai dari yang tertinggi:

Kasta #1 : Ekspatriat

Tanpa bermaksud merendahkan, bule-bule itu digaji hingga 1000% lebih besar ketimbang tenaga kerja profesional dalam negeri dengan tugas dan kewenangan yang hampir sama. Umumnya mereka dipekerjakan di organisasi internasional. Di kalangan ekspatriat tentu ada yang cerdas brilian ada yang tidak. Ekspat yang paling kurang pintar pun gajinya pasti lebih tinggi dibanding profesional lokal yang cerdas.

Kasta #2: Lokal Lulusan Luar Negeri

Ada paradigma yang menyebutkan pendidikan luar negeri itu lebih baik ketimbang dalam negeri. Itu benar. Tapi apakah lulusan pendidikan luar negeri itu lebih baik ketimbang lulusan dalam negeri? Itu soal lain. Masih banyak perusahaan yang mementingkan lulusan luar negeri meski minim pengalaman dan reputasi ketimbang lulusan dalam negeri.

Kasta #3: Lokal Lulusan Sekolah Negeri

Cara berpikir masyarakat pada umumnya masih bergaya feodal, terbukti dengan berbondong-bondongnya masuk ke sekolah negeri, tanpa memandang minat studi. Yang penting masuk sekolah negeri. Umumnya alumni sekolah negeri mendapat kesempatan yang lebih luas (lebih diutamakan) dalam rekrutmen, dan peluang untuk mendapatkan posisi yang tinggi lebih besar.

Kasta #4: Lokal Lulusan Sekolah Swasta

Sehebat apapun sekolahnya, swasta selalu di bawah bayang-bayang negeri. Meski telah menelurkan juara olimpiade, menghasilkan hacker terhebat, desainer terkemuka, hingga bankir jempolan, swasta tetap dinomorduakan dibanding negeri. Agar para alumni bisa bersaing dengan negeri, jaringan sesama alumni kerap kali menyelamatkan. Bila ada alumni yang sukses menjadi top manajemen di sebuah perusahaan, maka dia akan merekomendasikan alumni sekolahnya untuk mengisi jabatan di perusahaan tersebut.

Kasta #5: Otodidak

Ini adalah kasta yang bisa dianggap kuda hitam. Bila mereka tidak berusaha keras menjadi yang utama di bidangnya, semua orang menganggapnya angin lalu. Dianggap tak berpendidikan, atau nir sarjana. Mereka dipandang sebelah mata, tetapi karena semangatnya, ketekunannya, serta keahliannya kemudian menjadi orang berpengaruh di bidangnya, hingga tak sedikit orang yang berguru pada mereka.

Pengkastaan ini bukan bermaksud untuk mengkotak-kotakkan individu, tetapi agar kita sadar, dunia pekerjaan itu bukan dunia yang sepenuhnya obyektif. Banyak sekali preferensi subyektif yang masuk dalam proses rekrutmen dan penggajian. Jangan sedih ketika kita tidak diterima dalam perusahaan yang kita dambakan, tetapi berusahalah dan berikan yang terbaik sehingga reputasi dan prestasi mengalahkan hirarki kasta.

Apology

In this modern world, brand should be performed as a human. Brand which stand like an announcer, not listening to the audience nor pay attention to them will be left. 

That’s the marketing theory I’ve learned in school and it’s true. They should put themself equal with the crowd. They must present in between people, not in high above the cloud.

Today I learn how important brand to saying something, especially when people complaining about the brand. Saying means making apology if necessary. 

I will use an example how a famous sportswear brand organized their second running event called #BajakJKT, a running event for public, expecting to have more than fifteen thousand participants (in real counting, there were around eight thousand participants that succeed running into finish line), to make a signature marathon run that will be remembered as an awesome event.

It turns as bad perceive when people remembering #BajakJKT. 

Short story, #BajakJKT that held in the Saturday afternoon turns into a chaos run which runner troubled with so many walking participants, taking selfie or wefie photos while the road getting dreadlock since the run route closed for crossing. Before all runner arrived in finish line, the running route has been rushed by vehicles impatiently because they suffer traffic jam much worse than any days.

Cars shouting, motorcyclist swearing, and also the participants feel wronged with the event.

After all bad impression about #BajakJKT (Twitter timeline filled with so many complaints), there’s no clarification, final statement, or even apology. Until this time, people are waiting The brand saying something about bad impact of #BajakJKT. Then people rethink about the brand. About the brand’s jargon. About “#BajakJKT”.

I think all that people asking is an apology. For making a dreadlock traffic. For chaos that happened during the event, despite most of participants looks happy to be part of it. For ignoring people’s complaints.

I have quite similar story but turns to be a good ending.

Everyone knows Harley-Davidson. Most people notice its bikes by thundering sound everytime a Harley passing by. And traffic jam when a group of Harley rider across the street.

One day a Harley community held an anniversary event in Bogor city. Most of Jakartan (and Bogorian as well) know that in the normal weekend, Bogor is an hell of traffic. Almost every street packed with vehicles, those who want enjoy weekend in Bogor. The event committee know this too. As a preventive act, they put a big billboard in the center of the city, that saying apology will making Bogor quite more jammed because of the event.

Of course it doesn’t end at saying apology. Police and Transportation Dept. Officers working harder, not only supporting the event but also manage the main road that most Harley rider will be passing through.

End of story, people are still complaining, amplified with online media coverage, but less than the anticipated. People still able to enjoy Bogor. From this point, communicate to the people and taking apology is a good step. To become human and put aside arrogance.

I’m not defending that Harley community because I’m working in Harley dealer, but putting concern not only to those who love the brand but also people in general is good. Win their heart and in return people will win the brand.

Kost

Mereka yang pernah merantau pasti tahu bagaimana tinggal di tempat yang bernama Kost.

Bila berbicara tinggal di ibukota, banyak pilihan untuk menyewa tempat tinggal selain kost. Ada apartemen, rumah susun, kontrakan, sewa rumah, dan lain-lain. Dari sekian pengalaman tinggal, saya masih menyenangi kost.

Saya pernah punya kost di Solo waktu saya masih remaja. Saya pun pernah tinggal di kamar kost walaupun dihitung sebagai kamar sendiri, jadi bukan ngekost. Saya mengamati dinamika yang terjadi di kost: ada yang bermain gitar malam-malam, pillow talk (yang kost cewe), PS an, hingga nobar bola di kamar kost yang ada TV nya, karena tak semua penghuni kost punya TV. Dinamika itu menjadi romansa tersendiri yang membuat ngekost berkesan.

Saya pertama kali merasakan kost ketika saya merantau ke Jakarta tiga tahun yang lalu, setelah sebelumnya saya tinggal di kontrakan bersama sahabat saya. Sebuah musibah yang menimpa memaksa saya untuk memilih kost.

Pada umumnya orang memilih kost karena faktor harga (murah), fasilitas (AC, wifi, TV kabel, dll), dan praktis (bayar bulanan sudah all in). Di samping itu, ada yang memilih kost karena adanya induk semang dan teman di kost. Bila terjadi musibah (sakit misalnya), ada orang yang bisa dimintai tolong.

Saya beruntung mengalami dinamika Kost di kost saya sekarang. Walaupun kost saya sederhana, tanpa AC (karena saya kurang suka AC), tanpa TV Kabel (saya bukan penyuka TV juga), tanpa wifi (karena mampu beli modem wifi), saya masih bisa merasakan keakraban antar penghuni kost. Tidak sekedar sapa ketika bertemu, tetapi nongkrong bareng, bahkan ketika ada yang menikah turut hadir di resepsi pernikahan. Ketika larut malam, terkadang mendengar sayup-sayup tetangga kos bermain gitar sambil bernyanyi. Untung suaranya tidak fals.

Mungkin saya bisa dibilang jadul, karena dinamika kost saat ini, khususnya di ibukota, dengan penghuni kost yang heterogen, relasi sosial menjadi renggang, tak kenal pun tak akrab satu sama lain. Itulah yang terjadi ketika kost dianggap sebagai papan belaka.

Sejatinya kost merupakan rumah. Rumah bagi jiwa-jiwa yang mampir mencari nafkah atau mengemban ilmu. Tak ada yang mau ngekost seumur hidupnya, tetapi setiap jiwa pasti mencari kenyamanan dan ketenangan hidup. Prinsip itulah yang saya bawa saat saya ngekost. Puji Tuhan saya masih kenal teman-teman yang sudah “lulus” dari kost dan masih kenal penghuni kost yang tinggal cukup lama.

Ketika kost sudah dianggap rumah, maka setiap penghuninya pasti akan menjaga agar rumah tetap nyaman dihuni. Salah satu cara yang mudah adalah toleransi dan tidak mementingkan egonya sendiri. Salah satu indikasi kost menjadi tak nyaman huni adalah ketika penghuninya masa bodoh dengan lingkungan kost, baik kebersihan dan keamanan. Juga mementingkan ego dengan menggelar pesta dan gaduh apalagi sampai terlibat menggunakan narkoba hingga perselisihan rumah tangga dan tindak kriminal. Amit-amit.

Umumya pemilik kost yang semula toleran dan bisa di nego menjadi lebih ketat. Yang semula nyaman, enak, menjadi serba kaku dan ketat. Gara-gara ego segelintir orang, semua kena getahnya.

Memilih tinggal di kost yang tak ada induk semangnya bukan berarti lebih nyaman karena bebas. Justru karena tak ada induk semang, kebersihan, keamanan dan ketertiban tidak ada yang menjaga. Ujung-ujungnya yang dirugikan penghuni kost.

Pesan saya bagi yang akan ngekost, anggaplah kost sebagai bagian dari rumah sendiri namun kita harus berbagi dengan orang lain. Kita harus membuat kost itu menghadirkan kenyamanan, keamanan, syukur-syukur mendatangkan keakraban. Dengan begitu, kita akan betah dengan kost.

City of Angels

Banda Neira (https://c1.staticflickr.com/5/4133/5225265400_9b8a8a2915_b.jpg)
Banda Neira

Seberapa cintakah kamu terhadap kotamu?
Apa yang membuat kamu kembali lagi ke kota itu, merindukannya, dan menginginkannya menjadi bagian hidupmu selamanya?

Jogja.

Begitu banyak yang saya lihat betapa orang mencintai kota Jogja. Kota yang terus berubah dan berkembang, namun di mata banyak orang, mereka melihat satu hal dari Jogja: romantisme.

Sebagian orang berujar “Jogja ngangenin”, atau “Ke Jogja aku pasti kan kembali”, sementara mereka bahkan bukan kelahiran Jogja atau berasal dari Jogja. Kebanyakan orang yang mengatakan hal ini setelah mereka merasakan sentuhan Jogja dan pengalaman di dalamnya.

Saya berpikir, apakah kota-kota lainnya tak ingin dikangeni layaknya Jogja? Apakah tak ada romantisme sedikitpun yang terbersit dari segenap makhluk hidup di bumi di kota-kota seperti Purbalingga, Tarakan, Poso, Lubuk Linggau, dan lainnya?

Jakarta.

Ibukota Indonesia ini kini dipenuhi oleh belasan juta jiwa yang bergelut setiap harinya untuk bertahan hidup. Bagi sebagian makhluk yang menghuni di dalamnya, Jakarta bak surga dan neraka. Namun tak dipungkiri, mereka cinta Jakarta sebagaimana adanya sekarang: macet, banjir, panas, namun menawarkan sejuta cerita, pengalaman, dan kehidupan duniawi.

Thirty Seconds to Mars dengan caranya menggambarkan kehidupan, kecintaan, dan kepahitan hidup di Los Angeles di lagu City of Angels. Kota yang ada di bagian barat Amerika Serikat ini seperti magnet bagi setiap orang: popularitas, uang, kekayaan, kesenangan ada di sini semua. Mereka semua mengejar mimpi di Los Angeles. Mereka pun banyak yang merasakan pahitnya kehidupan Los Angeles.

Romantisme itu menjadi pemersatu di antara mereka yang bergelut dan bertahan di sebuah kota. Ditambah lagi kota itu berhasil menginspirasi seniman, artis, musisi, untuk mengisahkan romantisme mereka masing-masing sehingga menjadi daya tarik orang lain untuk mengunjugi kota tersebut.

Saya berharap bisa merasakan romantisme indahnya Meulaboh, glamor kehidupan di Manado, ataupun birunya laut di Banda Neira sehingga orang yang pernah tinggal, pernah berkunjung menjadi ingin ke sana lagi dan lagi. Dan juga orang yang belum pernah ke sana menjadi penasaran dan turut merasakan romantisme itu.